Home » » Pluralisme agama

Pluralisme agama

Written By Polaris Institute on Rabu, 09 Mei 2012 | 08.47

Pluralisme agama adalah sebuah konsep yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula:
  • Sebagai pandangan dunia yang menyatakan bahwa agama seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama-agama lain pun dapat ditemukan, setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan nilai-nilai yang benar.
  • Sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek bersama yang terdapat dalam agama-agama.
  • Kadang-kadang juga digunakan sebagai sinonim untuk ekumenisme, yakni upaya untuk mempromosikan suatu tingkat kesatuan, kerja sama, dan pemahaman yang lebih baik antar agama-agama atau berbagai denominasi dalam satu agama.
  • Dan sebagai sinonim untuk toleransi agama, yang merupakan prasyarat untuk ko-eksistensi harmonis antara berbagai pemeluk agama ataupun denominasi yang berbeda-beda.
Pluralisme menurut beberapa Agama di Indonesia:

Islam
Dalam pandangan Islam, sikap menghargai dan toleransi kepada pemeluk agama lain adalah mutlak untuk dijalankan(Pluralitas). Namun bukan berarti beranggapan bahwa semua agama adalah sama (pluralisme), artinya tidak menganggap bahwa Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang kalian sembah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menentang paham pluralisme dalam agama Islam. Namun demikian, paham pluralisme ini banyak dijalankan dan kian disebarkan oleh kalangan Muslim itu sendiri. Solusi Islam terhadap adanya pluralisme agama adalah dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing (lakum diinukum wa liya diin). Tapi solusi paham pluralisme agama diorientasikan untuk menghilangkan konflik dan sekaligus menghilangkan perbedaan dan identitas agama-agama yang ada.
Di Indonesia, salah satu kelompok Islam yang mendukung pluralisme agama adalah Jaringan Islam Liberal. Di halaman utama situsnya terulis: "Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan segala agama."

Kristen
Dalam dunia Kristen, pluralisme agama pada beberapa dekade terakhir diprakarsai oleh John Hick. Dalam hal ini dia mengatakan bahwa menurut pandangan fenomenologis, terminologi pluralisme agama arti sederhananya ialah realitas bahwa sejarah agama-agama menunjukkan berbagai tradisi serta kemajemukan yang timbul dari cabang masing-masing agama. Dari sudut pandang filsafat, istilah ini menyoroti sebuah teori khusus mengenai hubungan antartradisi dengan berbagai klaim dan rival mereka. Istilah ini mengandung arti berupa teori bahwa agama-agama besar dunia adalah pembentuk aneka ragam persepsi yang berbeda mengenai satu puncak hakikat yang misterius. 

Hindu
Hindui mengakui Pluralisme, di dalam ajaran Hindu ada 4 cara dalam untuk menuju Tuhan (Brahman) yang dinamakan Catur Marga (Bhakti, Kharma, Jnana dan Raja Yoga).
Bhakti Marga adalah jalan menujuNya dengan berbakti (Sembahyang, menyembahNya). 
Semua Agama melakukan ini bukan?
Kharma Marga adalah jalan menujuNya dengan melakukan perbuatan baik sesuai Ajaran Agama.  Semua Agama pasti mengajarkan ini bukan?  Termasuk orang2 yang mengaku tidak berAgama dan berTuhan juga melakukan hal ini.
Jnana marga adalah jalan menujunya dengan mempelajari melalui Kitab-kitab Suci.  Ini sudah sangat jelas dilakukan semua Agama.
Raja Yoga Marga adalah jalan tertinggi menujunya dengan jalan meditasi tingkat tinggi, sedikit orang yang bisa melakukan ini, dimana keberadaan Tuhan sebagai Jiwa Semesta dan Jiwa Manusia telah dirasakan dan dihayati.  Setahu saya ini ada dalam Hindu dan Budha, dalam agama lain saya tidak berani menyimpulkan (mudah2an ada yg mau berbagi di komentar).
Ke empat jalan/cara ini tidak berjalan sendiri-2, terutama yang 3 pertama…Selalu berkombinasi dan bisa ke 3 nya di jalankan.
Dalam konsep Hindu, merusak Alam adalah sama dengan merusakNya, karena Alam dijiwai olehnya.  Apalagi membunuh Manusia, karena semua Manusia dijiwai olehNya hanya tebal tipis selubung Maya yg membedakannya.

Budha
Visi dan Misi Kemasyarakatan Buddhis
Buddha mengajarkan dharma (dhammacakkapavattava sutta) yang pertama kali untuk membebaskan manusia dari penderitaan. Buddha mengajarkan ajarannya dengan pendekatan adanya penderitaan (dukkha), sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan dan jalan menuju lenyapnya penderitaan.
Sesungguhnya Buddha bercita-cita mewujudkan suatu masyarakat Buddhis di tengah-tengah berbagai sistem agama yang ada pada waktu itu, beliau amat memperhatikan masalah-masalah kemanusiaan didunia ini. Beliau ingin memperbaiki beberapa kondisi hidup manusia, di dalam masyarakat atau secara individual, dengan tujuan untuk mendukung kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi. Namun sekaligus menekankan pentingnya perkembangan spiritual manusia.
Visi Buddhis didalam tindakan berhubungan dengan kisah bahwa di India pada jaman Buddha, terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang diperintah secara demokratis atau Republik-Republik Desa seperti Licchavi dan Vajji, Buddha menyebutkan komunitas-komunitas ini layak diteladani yang lain-lainnya. Beliau menunjukkan bahwa komunitas-komunitas ini memiliki karakteristik-karakteristik tertentu yang mampu memberdayakan mereka untuk berdiri menentang campur tangan pihak luar.
Menurut Buddha, ciri-ciri khas yang menonjol dari komunitas-komunitas ini adalah:
pertemuan komunitas yang sering diadakan; partisipasi komunitas dalam mengambil keputusan, berkumpul dengan damai, berdiskusi dengan damai, dan bubar dengan damai; menaati hukum yang berlaku; tidak memaksakan hukum yang tak dapat dipatuhi; perlindungan dan kesejahteraan bagi anak-anak, wanita, orang sakit, orang cacat, dan manula, melanjutkan acara-acara kebudayaan tradisional tanpa putus, serta mengundang, menunjang, dan belajar dari para arif-bijaksana seperti para biku dan petapa yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga guna mencari pencerahan spiritual.
Buddha menekankan pada aturan disiplin, yang menyangkut segi duniawi dan spiritual, untuk dapat dipraktekkan. Keadaan demikian sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Buddha dalam kitab Digha Nikaya (D.iii.127) yaitu demi untuk kebaikan dan kebahagiaan orang banyak, demi kasih sayang terhadap dunia, demi kebaikan dan kebahagiaan para dewa dan manusia.' 

Sumber:


 
Ping your blog, website, or RSS feed for Free
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Polaris Institute - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger