Home » » Tahanan

Tahanan

Written By Polaris Institute on Sabtu, 12 Mei 2012 | 03.19

Atas ranjang batu
tubuhnya panjang
bukit barisan tanpa bulan
kabur dan liat
dengan mata sepikan terali.

Di lorong-lorong
jantung matanya
para pemuda bertangan merah
serdadu-serdadu Belanda rebah.

Di mulutnya menetes
lewat mimpi
darah di cawan tembikar.
Dijelmakan satu senyum
bara di perut gunung.
(Para pemuda bertangan merah
adik lelaki neruskan dendam).

Dinihari bernyanyi
di luar dirinya.
Anak lonceng

menggeliat enam kali
di perut ibunya.
Mendadak
dipejamkan matanya.

Sipir memutar kunci selnya
dan berkata:
- He, pemberontak
hari yang berikut bukan milikmu!

Diseret di muka peleton algojo
ia meludah
tapi tak dikatakannya:
- Semalam kucicip sudah
betapa lezatnya madu darah.

Dan tak pernah didengarnya
enam pucuk senapan
meletus bersama. Ping your blog, website, or RSS feed for Free
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Polaris Institute - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger